Friday, August 17, 2018

Merdeka belajar

*KEMERDEKAAN BELAJAR*

_oleh : Septi Peni Wulandani_


"....Kemerdekaan hendaknya dikenakan terhadap caranya anak-anak berpikir, yaitu jangan selalu
"dipelopori", atau disuruh mengakui buah pikiran orang lain, akan tetapi biasakanlah anak-anak
mencari sendiri segala pengetahuan dengan menggunakan pikirannya sendiri..." Ki Hajar Dewantara
(Buku Peringatan Taman Siswa 30 tahun, 1922 - 1952)


Kutipan di atas, kembali mengingatkan para orangtua dan pendidik negeri ini yang sudah 73 tahun
merdeka, dengan satu kalimat tanya,

_"Apakah anak-anak kita sudah merdeka belajar?"_

"Apakah selama
ini kita lebih cenderung menjejalkan sebuah konsep pemikiran kita ke anak-anak atau sebaliknya kita
lebih sering mendengarkan suara anak?"

Menurut Ki Hajar Dewantara, dalam pendidikan harus senantiasa diingat bahwa kemerdekaan itu
bersifat tiga macam : *berdiri sendiri, tidak tergantung pada orang lain dan dapat mengatur diri
sendiri*


*BERDIRI SENDIRI*
Kemerdekaan belajar mengakui anak sebagai subyek belajar, bukan objek. Anaklah yang menentukan
untuk apa dia belajar dan mempelajari sesuatu, anak memiliki kewenangan dan inisiatif dalam belajar.


*TIDAK BERGANTUNG PADA ORANG LAIN*

Secara alamiah kehidupan sehari-hari anak mulai dari bangun tidur sampai mau tidur lagi adalah proses
aktivitas belajar. Anak-anak mencoba mencari jawaban dari rasa ingin tahunya yang tinggi, tanpa bergantung
ada orang dewasa di sekitarnya atau tidak. Anak-anak itu pembelajar sejati, kita saja sebagai orang dewasa yang selalu menganggap anak-anak itu tidak tahu apa-apa, dan kita serba tahu, sehingga  harus mengajarinya terus menerus.

*DAPAT MENGATUR DIRI SENDIRI*

Anak mampu mengelola diri akan kebutuhan belajarnya. Memilih cara dan media belajar yang sesuai
dengan gaya belajarnya serta kondisi lingkungan sekitar dimana ia dibesarkan. Jadwal belajar anak tidak
ditentukan dan dibuat oleh orang dewasa di sekitarnya, baik itu guru di sekolah maupun orangtua di
rumah. Anak memaknai semua waktu adalah waktu belajar, kita saja yang mengkotakkan ada waktu anak untuk belajar, dan memaknai di luar waktu  tersebut berarti bukan belajar.


Anak yang berada dalam kemerdekaan belajar bisa mengatur jadwal belajarnya untuk mencapai
tujuan belajar masing-masing.


Apakah semua anak lahir merdeka? saya yakin semua pasti akan menganggukkan kepala dan menjawab
"iya".

Sejak lahir anak-anak sudah memiliki empat hal fitrah kemerdekaan dalam belajar yaitu :
1. Memiliki rasa ingin tahu yang tinggi (intellectual curiosity)
2. Memiliki daya imajinasi kreativitas yang tinggi (Creative imagination)
3. Memiliki kemampuan berpikir untuk menemukan suatu pengetahuan yang sudah ada maupun hal baru (art of discovery and invention)
4. Memiliki akhlak mulia (noble attitude) terhadap proses penemuan ilmu

Keempat hal tersebut terbukti sejak bisa berjalan dan berbicara anak-anak tak henti-hentinya untuk
menanyakan segala macam yang memantik rasa ingin tahunya ke orang dewasa, bahkan tak jarang dari
mereka mengulang-ulang pertanyaannya tanpa henti.


Tiba-tiba mereka bisa membuat semua benda yang ada di sekitarnya menjadi alat permainan yang
menggembirakan karena berkolaborasi dengan imajinasi anak-anak yang tinggi. keseharian anak-anak
menjadi sesuatu yang dinamis, karena selalu diwarnai "Aha! Moment", teriakan "Aha!" "Ooo" "Wow!"
selalu kita temukan di sela-sela keseruannya belajar.


Pertanyaan berikutnya, "Apakah ketika masuk usia sekolah, kemerdekaan belajar anak masih terawat
dengan baik?"


Kemerdekaan belajar adalah modal dasar bagi setiap anak agar menjadi pembelajar seumur hidup.


Tanpa adanya kemerdekaan belajar, anak akan belajar dengan penuh paksaan, tanpa dilandasi sebuah
kesadaran.


*BAGAIMANA MEWUJUDKAN KEMERDEKAAN BELAJAR?*


*DI RUMAH*

1. Siapkanlah buku "Rasa ingin tahuku" yang dimiliki oleh masing-masing anak. Bukalah selalu obrolan
ayah bunda dan anak-anak dengan mengulik rasa ingin tahu mereka. Tanyakanlah "Apa yang ingin kalian
ketahui pagi ini?'. Ijinkanlah anak-anak untuk menyampaikan suaranya dan rasa ingin tahunya. Bagi yang
sudah menulis silakan menulis di buku masing-masing. Bagi yang belum bisa menulis, silakan dengarkan
suara anak-anak.

2. Apabila rasa ingin tahu anak muncul sewaktu-waktu, siapkanlah satu kertas flipchart dan spidol di
salah satu dinding rumah kita, agar kita bisa mencatatnya kapanpun.

3. Ajak anak-anak untuk mencari jawaban dari rasa ingin tahu tersebut dari berbagai sumber media
belajar yang ada. Biarkanlah mereka menemukan jawaban sebanyak mungkin, sehingga membuat anak
menemukan ribuan pengetahuan dari satu pertanyaan yang dilontarkan.

Tugas orangtua adalah memicu
anak untuk terus mencari jawaban, bukan memberikan jawaban versi orangtua sebagai jawaban yang
paling benar.


ingat,

*Mendidik itu bukan membuat anak bisa menjawab 1000 pertanyaan yang sudah diketahui
jawabannya, mendidik itu menstimulus anak bertanya 1 pertanyaan yang membawanya menemukan 1000 pengetahuan*


4. Dengarkan suara anak, apa saja yang mereka temukan selama proses mencari sebuah jawaban dari
setiap pertanyaan yang muncul dari diri mereka.

5. Ulangi lagi prosesnya apabila muncul rasa ingin tahu dari setiap proses petualangan mencari ilmu
yang dijalani oleh anak-anak.

*DI SEKOLAH*

1. Buka pagi hari di sekolah dengan kegiatan yang menyenangkan misal dengan menulis jurnal pagi yang
akan menjadi media suara hati anak di sekolah, atau membuka forum-forum dialog antara guru dan anak
dalam kondisi yang rileks dan tenang.

2. Ubah pola pikir guru sebagai orang yang serba tahu dan ingin mentransfer semua ilmunya ke kepala
anak-anak, menjadi orang yang menjadi teman belajar anak-anak. Memfasilitasi proses belajar anak,
sehingga anak-anak menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang muncul.

ingat,
*Menjadi guru itu bukan mengajar, tetapi menjadi teman belajar*


3. Ajak siswa untuk membuat tujuan belajarnya, apa yang ingin dicapainya, ajak mereka diskusi satu
kelas. Kemudian rencanakan jadwal kelas yang disepakati bersama untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan.

4. Gunakan konsep "the power of question" saat menempati posisi menjadi guru, jangan banyak
menjelaskan, banyaklah membuat pertanyaan. Begitu juga sebaliknya ketika anak-anak diberi
kesempatan mempresentasikan hasil belajarnya, saat itulah posisi guru bisa berubah peran menjadi
murid. Sehingga konsep semua murid, semua guru akan berjalan dengan cantik di dalam kemerdekaan
belajar.

5. Ulangi sekali lagi prosesnya setiap kali anak-anak menemukan jawaban dari setiap pertanyaan yang
ada, dan muncul lagi rasa ingin tahu.


KIta hidup di negeri yang merdeka, tetapi tidak banyak anak-anak Indonesia yang merasakan bagaimana
rasanya merdeka dalam belajar. Maka apabila diijinkan untuk menambahkan hak anak, maka saya
mengusulkan kemerdekaan belajar itu adalah hak setiap anak yang harus diperjuangkan.

*MERDEKA ATAU MATI!!*


Sumber :
_Ki Hajar Dewantara, Pemikiran, konsepsi, keteladanan, sikap merdeka, Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, UST Press, cetakan ke 5, 2013_

_Septi Peni Wulandani, Merdeka Belajar, rubrik pendidikan, di salah satu media cetak, 2018_

Lomba 17 Agustusan

Tanpa terasa, sebentar lagi kita akan kembali merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Negara minggu depan. Tujuh-belasan seakan membawa nostalgia tersendiri, kita ingat bagaimana ibu kita dulu membawa kita ke lapangan untuk mengikuti pelbagai lomba yang sampai kita punya anak, lombanya itu-itu juga. Karena kita cenderung mengasuh anak kita sebagaimana dulu kita di asuh, sekarang kita pun menggeret anak-anak kita untuk ikut lomba. Lomba-lomba seperti lomba makan kerupuk tanpa di pegang, memindahkan kelereng dengan sendok, masukin pulpen ke botol dengan cara menggoyang2kan pinggul, dan segambreng lainnya tampaknya lucu, asyik dan membuat semua orang tampak happy.

Sampai ada anak kecil yang kalah.

Lomba tampaknya adalah kata yang tidak berbahaya untuk orang dewasa, tapi luar biasa menghancurkan bagi anak-anak. Anak di bwh usia 7th sebetulnya belum siap berkompetisi. Mereka belum bisa menang dengan rendah hati dan kalah tanpa patah semangat. Mereka belum bisa menerima bahwa ada yang lebih baik dari mereka ketika mereka sudah berusaha sekuat dan sebaik mereka bisa. Mereka tidak paham bahwa setelah berusaha semaksimal mungkin itu, mereka tetap “belum cukup bagus”. Lomba mengajarkan anak mengalahkan orang lain, mereka belum bisa menangani rasa sombong dari kemampuan mengalahkan itu. Menang diusia dini tidak membangun karakter, mereka justru hanya belajar untuk menertawakan yang kalah. Salah-salah, lomba mengajarkan anak untuk tidak percaya diri, secara lawannya ada 20, yang bisa menang cuma satu, kans dia kecil sekali. Ya KALO cuma 20, kalo 200? Apalagi kalau dia liat yang badannya lbh besar, tampaknya lebih pintar, wassalam deh.

Ah… gak papalah.. kan semua juga dapet hadiah…

Ini prinsip yang LEBIHHHH berbahaya lagi. Kenapa? Karena hidup tidak berjalan seperti itu. mana ada lomba miss universe, semua kontestan yang 100 itu dapat hadiah yang sama semua. Lomba sayembara, peserta menang semua, Indonesian Idol, menang semua. Dapet hadiah semua? Mana ada?? Yang ada di suruh pulang di depan sak negara. Dimana-mana, yang namanya lomba, atau kompetisi, pemenang utama hanya satu. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa juara dua adalah pecundang pertama. Memberikan hadiah untuk semua peserta bukan hanya merusak si kalah, tapi si menang juga. Si kalah akan berpikir: ngapain gue berusaha maksimal kalo ujung2nya dpt hadiah eniwei. Bsk lomba lagi ah, tapi ga usah capek2, toh dpt hadiah juga. Si menang? Udh jungkir balik berusaha, ngliat si kalah dpt hadiah juga, dia pikir ngapain next time gw susah2 kalau kalah pun bakal dpt hadiah eniwei? Capek bgt gw td. Tau gitu gw ga usah lari cpt2. Kan harga hadiahnya beda. MANA ANAK TAUUUUU?

Jadi, ‘haram’?

Ya nggaklah. BOLEH banget lomba. Lomba di rumah. Sama mama, ayah, adik, kakak, om, tante, nenek, kakek. Lomba pake sepatu, lomba merapihkan mainan, lomba lari sambil jalan sore, whateverlah, sekreatif orgtuanya saja. Jangan kasih anak terus menerus menang, tapi jangan juga mereka terus menerus kalah.  Ditengah rapat keluarga bulan lalu, anak saya yang menjelang 10th sok2an lomba masak sama kakak sepupunya yang hampir beda 2th. Mereka bikin telur dadar, pake abon, nasi, lengkap dengan dessert, yang satu kurma, yang satu cookies, mereka rangkai makanannya ala2 junior masterchef. Jurinya? Neneknya.

Dengan lomba-lomba mini ini anak belajar kalah. Belajar cepat. Belajar menjadi lebih baik. tanpa kehilangan kasih sayang. Mereka belajar bahwa tidak mungkin bisa selalu menang. Tapi kegagalan mereka tidak menghancurkan harga diri mereka, secara lawannya Cuma satu. Lewat lomba-lomba di rumah, orangtua sambil bisa cerita, tentang si kancil dan kura-kura, dan bahwa sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu saat akan terjatuh juga.

Secara perlahan, anak-anak bisa di bekali dengan 'ketrampilan untuk kalah'. Mengetahui cara kalah yang sehat itu luar biasa penting, karena  kecewa adalah santapan sehari-hari: anak tidak mendapatkan mainan yang dia inginkan, dijanjikan pergi tapi nggak jadi karena mendadak hujan, atau akhirnya mendapat eskrim tapi ternyata jatuh setelah baru dua jilatan. Tidak perlu lah kita menambah beban hidup mereka dengan mengikutkan mereka ke lomba-lomba yang tidak perlu. Yang menciptakan anak sombong jika menang, dan minder jika kalah. Apa ga sedih Cuma gegara kelereng jatuh dari sendok sebelum waktunya, dia jadi minder seumur hidupnya?

Lomba baik untuk anak. Tapi seperti semua hal di dunia ini, ada waktunya. 

Bagi saya, yang lebih penting adalah menanamkan pada mereka bahwa kemenangan yang sebenarnya bukan berarti tidak pernah kalah, tapi kemampuan untuk terus mencoba. Dan kekalahan yang sejati bukanlah kegagalan demi kegagalan yang mereka rasa, tapi pada keputusan untuk  menyerah.
Merdeka!

#SarraRisman