Friday, August 17, 2018

Lomba 17 Agustusan

Tanpa terasa, sebentar lagi kita akan kembali merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Negara minggu depan. Tujuh-belasan seakan membawa nostalgia tersendiri, kita ingat bagaimana ibu kita dulu membawa kita ke lapangan untuk mengikuti pelbagai lomba yang sampai kita punya anak, lombanya itu-itu juga. Karena kita cenderung mengasuh anak kita sebagaimana dulu kita di asuh, sekarang kita pun menggeret anak-anak kita untuk ikut lomba. Lomba-lomba seperti lomba makan kerupuk tanpa di pegang, memindahkan kelereng dengan sendok, masukin pulpen ke botol dengan cara menggoyang2kan pinggul, dan segambreng lainnya tampaknya lucu, asyik dan membuat semua orang tampak happy.

Sampai ada anak kecil yang kalah.

Lomba tampaknya adalah kata yang tidak berbahaya untuk orang dewasa, tapi luar biasa menghancurkan bagi anak-anak. Anak di bwh usia 7th sebetulnya belum siap berkompetisi. Mereka belum bisa menang dengan rendah hati dan kalah tanpa patah semangat. Mereka belum bisa menerima bahwa ada yang lebih baik dari mereka ketika mereka sudah berusaha sekuat dan sebaik mereka bisa. Mereka tidak paham bahwa setelah berusaha semaksimal mungkin itu, mereka tetap “belum cukup bagus”. Lomba mengajarkan anak mengalahkan orang lain, mereka belum bisa menangani rasa sombong dari kemampuan mengalahkan itu. Menang diusia dini tidak membangun karakter, mereka justru hanya belajar untuk menertawakan yang kalah. Salah-salah, lomba mengajarkan anak untuk tidak percaya diri, secara lawannya ada 20, yang bisa menang cuma satu, kans dia kecil sekali. Ya KALO cuma 20, kalo 200? Apalagi kalau dia liat yang badannya lbh besar, tampaknya lebih pintar, wassalam deh.

Ah… gak papalah.. kan semua juga dapet hadiah…

Ini prinsip yang LEBIHHHH berbahaya lagi. Kenapa? Karena hidup tidak berjalan seperti itu. mana ada lomba miss universe, semua kontestan yang 100 itu dapat hadiah yang sama semua. Lomba sayembara, peserta menang semua, Indonesian Idol, menang semua. Dapet hadiah semua? Mana ada?? Yang ada di suruh pulang di depan sak negara. Dimana-mana, yang namanya lomba, atau kompetisi, pemenang utama hanya satu. Bahkan ada pepatah yang mengatakan bahwa juara dua adalah pecundang pertama. Memberikan hadiah untuk semua peserta bukan hanya merusak si kalah, tapi si menang juga. Si kalah akan berpikir: ngapain gue berusaha maksimal kalo ujung2nya dpt hadiah eniwei. Bsk lomba lagi ah, tapi ga usah capek2, toh dpt hadiah juga. Si menang? Udh jungkir balik berusaha, ngliat si kalah dpt hadiah juga, dia pikir ngapain next time gw susah2 kalau kalah pun bakal dpt hadiah eniwei? Capek bgt gw td. Tau gitu gw ga usah lari cpt2. Kan harga hadiahnya beda. MANA ANAK TAUUUUU?

Jadi, ‘haram’?

Ya nggaklah. BOLEH banget lomba. Lomba di rumah. Sama mama, ayah, adik, kakak, om, tante, nenek, kakek. Lomba pake sepatu, lomba merapihkan mainan, lomba lari sambil jalan sore, whateverlah, sekreatif orgtuanya saja. Jangan kasih anak terus menerus menang, tapi jangan juga mereka terus menerus kalah.  Ditengah rapat keluarga bulan lalu, anak saya yang menjelang 10th sok2an lomba masak sama kakak sepupunya yang hampir beda 2th. Mereka bikin telur dadar, pake abon, nasi, lengkap dengan dessert, yang satu kurma, yang satu cookies, mereka rangkai makanannya ala2 junior masterchef. Jurinya? Neneknya.

Dengan lomba-lomba mini ini anak belajar kalah. Belajar cepat. Belajar menjadi lebih baik. tanpa kehilangan kasih sayang. Mereka belajar bahwa tidak mungkin bisa selalu menang. Tapi kegagalan mereka tidak menghancurkan harga diri mereka, secara lawannya Cuma satu. Lewat lomba-lomba di rumah, orangtua sambil bisa cerita, tentang si kancil dan kura-kura, dan bahwa sepandai-pandai tupai melompat pasti suatu saat akan terjatuh juga.

Secara perlahan, anak-anak bisa di bekali dengan 'ketrampilan untuk kalah'. Mengetahui cara kalah yang sehat itu luar biasa penting, karena  kecewa adalah santapan sehari-hari: anak tidak mendapatkan mainan yang dia inginkan, dijanjikan pergi tapi nggak jadi karena mendadak hujan, atau akhirnya mendapat eskrim tapi ternyata jatuh setelah baru dua jilatan. Tidak perlu lah kita menambah beban hidup mereka dengan mengikutkan mereka ke lomba-lomba yang tidak perlu. Yang menciptakan anak sombong jika menang, dan minder jika kalah. Apa ga sedih Cuma gegara kelereng jatuh dari sendok sebelum waktunya, dia jadi minder seumur hidupnya?

Lomba baik untuk anak. Tapi seperti semua hal di dunia ini, ada waktunya. 

Bagi saya, yang lebih penting adalah menanamkan pada mereka bahwa kemenangan yang sebenarnya bukan berarti tidak pernah kalah, tapi kemampuan untuk terus mencoba. Dan kekalahan yang sejati bukanlah kegagalan demi kegagalan yang mereka rasa, tapi pada keputusan untuk  menyerah.
Merdeka!

#SarraRisman

No comments:

Post a Comment