Hari ini aku nulis karena harus hafalin kecapi kawih Dewi Sartika. Yang bunyinya kayak gini loh
Kantun jujuluk nu arum
Kari wawangi nu seungit
Nyebar, mencar, sapasundan, nyambuang sanusantara
Sari puspa wangi arum
Seungit manis ngadangding sari sekar nyusup tiis
Mana sukma istri Sunda
Terus aku juga ada tugas membuat teks menolong kayak gini:
Contoh 1: Monolog tentang Makanan Favorit
Halo, teman-teman! Kenalin, namaku Budi. Ada yang tahu, enggak, aku paling suka makan apa? Tebak, dong! Bukan, bukan nasi goreng. Bukan juga bakso. Aku paling suka makan telur dadar buatan Ibu!
Pagi-pagi, Ibu sudah ada di dapur. Ck, ck, ck... suara garpu mengocok telur. Aku langsung lari ke dapur, enggak sabar mau lihat. Waktu digoreng, telurnya mengembang, baunya wangi banget! Kadang, di atasnya ditaburi daun bawang. Warnanya jadi hijau-kuning cantik sekali, seperti pelangi di piringku.
Telur dadar ini rasanya enak, asin-asin gurih. Dimakan pakai nasi hangat, duh, nikmatnya! Aku bisa habis dua piring, lho. Kalau kalian, makanan favoritnya apa?
Ada juga yang kayak gini
Contoh 2: Monolog tentang Kucingku
Namaku Lulu. Aku punya teman baru. Dia punya kumis panjang dan ekor yang suka melambai-lambai. Suaranya "meong... meong...". Iya, dia kucingku! Namanya Ciko.
Ciko lucu sekali! Kalau aku pulang sekolah, dia langsung menyambutku di depan pintu. Dia suka menggesek-gesekkan kepalanya di kakiku, minta dielus. Bulunya halus dan lembut seperti kapas.
Ciko paling suka bermain kejar-kejaran dengan benang. Aku gulung-gulung benangnya di lantai, dia langsung lari mengejarnya. Kadang dia juga suka bersembunyi di bawah meja. Lucu banget kalau dia ketahuan. Aku sayang sekali sama Ciko. Dia teman terbaikku di rumah.
Tapi aku lebih suka yang ini
Contoh 3: Monolog tentang Cita-cita
Hai semua! Kenalin, aku Siti. Kalau sudah besar nanti, aku mau jadi dokter hewan. Kenapa? Karena aku sayang sekali sama semua binatang.
Kemarin, aku lihat ada anak kucing yang tersesat di jalan. Kucing itu lemas dan kakinya luka. Aku sedih sekali melihatnya. Akhirnya, aku dan ayah membawanya ke klinik hewan. Di sana, dokter hewannya baik sekali. Dia mengobati kucing itu sampai sembuh.
Aku jadi berpikir, kalau aku jadi dokter hewan, aku bisa membantu banyak hewan yang sakit dan tersesat. Aku bisa mengobati kucing, anjing, burung, dan semua binatang lain yang butuh pertolongan. Dengan begitu, mereka bisa sehat dan ceria lagi. Doakan aku, ya, supaya cita-citaku tercapai!
No comments:
Post a Comment