Sunday, December 26, 2021

Renungan anak

 *Anakku Yang Tak Pandai*


Oleh : Irene Radjiman


Dia anakku yang nomor 2. Kami lebih senang menyebutnya begitu, sebab dari sejak ia lahir hingga kini saya tidak memakai kontrasepsi, karena suami masih berharap akan ada anak ke-3 dst. Namun rupanya hingga kini belum Allah izinkan kami untuk menambahnya.


Dia berbeda dari abangnya. Hanya dengan dia saya kerapkali berteriak, hanya dengan dia saya kerapkali menangis dengan kesal. Abangnya yang selalu menjadi juara kelas, daya tangkap yang luar biasa, berbeda jauh dengan dirinya yang tidak mudah dengan cepat menangkap materi. Jangankan berharap juara kelas, bisa naik kelas saja sudah Alhamdulillah.


Dia tak pandai berhitung. Lambat membaca dan menghafal. Saya nyaris dibuatnya putus asa. "Apa kata orang nanti ketika melihatnya sebagai anak seorang penulis yang dikenal inspiratif, ternyata cuma segitu?"


Suamiku kerap kali mengatakan, "Ada maksud Allah memberi Naza untuk kita." dan disaat itu juga aku bertanya dalam hati, "Apa maksud Allah?"


Hingga suatu ketika saat sholat ashar di rest area, saya terlibat obrolan dengan seorang ibu usia kisaran 65 tahunan. Saya lupa awalnya bagaimana hingga sampai ibu itu berkisah tentang putera bungsunya. 


Beliau memiliki 5 orang putera. Namun putera bungsunya ini yang paling berbeda. Tak pandai berhitung, tak pandai mengingat, tak pandai membaca, daya tangkap yang lambat. Ditambah lagi saat itu keluarga mereka terbatas secara finansial hingga tak mungkin memberikan les tambahan bagi si bungsu. 


Lulus SD, mereka (si ibu & suami) bersepakat menaruh putera bungsu mereka di ponpes kobongan. Berharap di sana si bungsu bisa menjadi penghafal Qur'an atau paling tidak seorang da'i. Sesampainya di pondok, bertemu dengan kiyai pimpin pondok dan mengatakan kondisi si bungsu yang sebenarnya. Pak kiyai berujar,


"Dzikir kan terus Robbi habli minasholihin kemudian sebut nama anak kalian. Minimal 200× ba'da sholat fardhu. Paling tidak 1000× dalam sehari kalian langitkan dzikiran itu."


Mereka pulang dan patuhi. 


3 tahun si bungsu di pondok. Memang si bungsu setiap hari membaca Alqur'an, tapi ternyata jangankan menjadi penghafal Qur'an, melantunkan Qur'an pun tak bisa indah, tetap biasa. Jangankan bisa berdakwah untuk menjadi da'i, menata bahasa saja seringkali berantakan.


"Mengapa Allah tak mengabulkan do'aku?" begitu pertanyaan yang muncul dibenak ibu itu. Sudahlah anakku tak pandai secara akademik, tak pandai pula mengaji. Begitu pikirnya. Ibu dan bapak tersebut menumpahkan curahan hati mereka pada kiyai pimpinan pondok.


"Ikhlas dan ridho lah pada putera kalian, apapun kondisinya, sebab ridho Allah ada pada ridho orang tua, sambil terus tetap amalkan dzikiran itu, bukan dengan harapan putera kalian menjadi ini dan itu, namun berharaplah putera kalian menjadi manusia yang cinta Al-Qur'an sehingga takut akan Allah. Setelah itu lihatlah keajaiban yang akan Allah suguhkan."


Tahun ke-4 si bungsu pulang. Minta restu pada orang tuanya untuk ujlah ke Sumatera, bertani. Si bungsu mengatakan, "Saya hanya butuh restu dari Abah dan Emak. Tak perlu berpikir tentang ongkos saya dan bagaimana saya di sana. Mohon restu dan do'a Abah dan Emak, insyaa Allah hidup saya berkah di sana."


Hampir 2 tahun di Sumatera menjadi buruh tani. Kemudian mulai memiliki sehektar tanah. Bertambah lagi dan bertambah, hingga memiliki tanah, sawah, dan beternak kambing. 5 tahun di Sumatera sudah menjadi tuan tanah dan memiliki banyak hewan ternak. Si bungsu ingin menikah. Meminta orang tuanya untuk datang dan mengkhitbah seorang gadis. Ternyata gadis itu sama dengan dirinya. Tak pandai berhitung, tak pandai bicara, namun gemar membaca Qur'an.


Disana orang tuanya bertanya, "Bagaimana ia bisa sesukses itu?"


"Karena doa Emak dan Abah."

"Iya, tapi apa yang kamu lakukan disini Nak?"

"Saya melakukan hal yang biasa saja. Sholat diawal waktu dan selalu jama'ah, seperti pesan pak kiyai. Bertani seperti ajaran para tuan tanah di sini saat menjadi buruh tani. Setiap panen, saya selalu undang ustad untuk menghitung zakat yang harus saya keluarkan sebelum panenan saya jual. Yah Emak dan Abah kan tahu saya tak pandai berhitung, maka saya minta tolong ustad untuk menghitung zakatnya Mak."


"Seketika saya teringat ucapan kiyai. Rupanya inilah keajaiban Allah itu!" ujar ibu itu pada saya. Ibu itu menambahkan,


"Dari ke-5 orang anak saya, si bungsu inilah yang terbilang sukses secara finansial. Bahkan kakak-kakaknya kerap kali berhutang padanya. Saya menyesal, kenapa dalam dzikiran saya itu fokus saya hanya pada si bungsu. Coba saya sebut nama ke-5 anak saya. Ajaibnya lagi, si bungsu saya ini tak punya rekening Bank. Dia menabung dalam bentuk emas batangan, dan ia bayarkan juga zakatnya setelah mencapai haul dan nishobnya. Bahkan kalo kakaknya ada yang mau berhutang, dia suruh pilih emas yang mana. Saya kalo ke rumahnya selalu dibawakan emas. Dulu sebelum ada HP, setiap bulan suratnya selalu datang pada kami. Sekarang setiap hari, dia menelepon kami. Setiap hari mbak! Dia juga punya data anak-anak yatim di kampungnya. Setiap hari anak-anak yatim itu diundangnya makan dirumahnya. Isterinya pun patuh dengan dia. Masyaa Allah!"


Saya tercekat mendengar ceritanya. Masyaa Allah.... Allahuakbar.... Sungguh kerdil saya sebagai orang tua yang mendewakan daya tangkap dan daya hafal yang cepat.


Kisah ini bukan untuk meremehkan prestasi akademik, bukan! bukan itu! berbahagialah anda sebagai orang tua yang memiliki anak dengan prestasi akademik yang gemilang. Namun janganlah berkecil hati bagi kalian orang tua yang memiliki anak dengan daya tangkap yang kurang tangkas, daya hafal yang kurang cepat. Sebab sebenarnya mereka adalah anak-anak spesial yang khusus Allah berikan bagi para orang tua spesial, untuk melihat keajaiban yang spesial.


Salam hangat untuk ayah bunda yang sedang mempersiapkan generasi Qur'ani dengan keikhlasan hati.


Barokallaahu fiikum.

Thursday, December 16, 2021

Baca qur'an

 *Inilah yang Terjadi pada Tubuh saat Membaca Al Quran Menurut dr. ZAIDUL AKBAR, Ada Efek Luar Biasa*


PORTAL JEMBER mengutip dari kanal YouTube dr. Zaidul Akbar Official bahwa sang dokter mengatakan telah ada penelitian mengenai mekanisme biologi tubuh manusia saat membaca Al Quran.


Saat memulai penjelasannya, dr. Zaidul Akbar menuturkan satu hal yang perlu dipahami oleh umat muslim.


_"Bahwa ayat-ayat Quran, huruf-hurufnya itu penuh keberkahan dari Allah,"_ kata dr. Zaidul.


Selanjutnya, _"pengucapan huruf atau bagaimana huruf-huruf itu terbaca menurut dr. Zaidul ternyata dapat menggetarkan saraf manusia."_


Itulah sebabnya dalam membaca Al Quran ada ilmu-ilmu tersendiri seperti tajwid, ilmu tentang tahsin, serta makhorijul huruf.


*"Ada idzhar, idghom, ikhfa'. Itu semua ketika dibaca itu beda,"*

ujar dr. Zaidul Akbar.


Sang dokter melanjutkan bahwa _"ketika membaca Al Quran dengan makhorijul huruf serta tajwid yang benar, maka akan ada efek yang terasa bagi tubuh dan jiwa."_


dr. Zaidul pun mencontohkan dengan *surah Maryam.* Sebagian besar ayat dalam surah tersebut *diakhiri dengan lafadz 'yaa'.*


Contoh lainnya yaitu *surah Muhammad* yang kebanyakan ayatnya *diakhiri dengan lafadz 'hum'.*


_*"Nah, itu ternyata ngefek ke jiwa kita,"*_

ujar dr. Zaidul Akbar.


Menurut sang dokter, _"ketika jiwa seseorang diberi penekanan huruf-huruf tertentu, maka akan ada efek luar biasa."_


Efek ini masih ditambah lagi dengan getaran-getaran yang terjadi pada saraf.


_*"Bahkan, beberapa jenis tajwid dalam Al Quran yang dibaca itu sebenarnya bisa membuang lendir,"*_

imbuh dr. Zaidul.


Contoh *Tajwid* yang berfungsi membantu membuang lendir menurut dr. Zaidul Akbar yaitu *Ikhfa'* yang _bersifat mendengung._


Oleh sebab itu, kata dr. Zaidul, _"jika seseorang membaca Al Quran dengan benar dan tartil, orang tersebut seharusnya sehat."_


Bagi orang-orang yang belum tartil membaca Al Quran, dr. Zaidul Akbar menyarankan untuk belajar kepada orang yang dapat mengajar mengaji dengan baik.


Dalam penjelasan selanjutnya tentang hal yang terjadi pada tubuh ketika membaca Al Quran, dr. Zaidul Akbar mengutip surah *Al-Hasyr ayat 21:*


لَوْ أَنزَلْنَا هَٰذَا ٱلْقُرْءَانَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَّرَأَيْتَهُۥ خَٰشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ


Artinya: *"Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan ketakutannya kepada Allah."*


Dalam ayat ini dikatakan bahwa gunung pun bisa lebur oleh Al Quran. Lalu, bagaimana dengan manusia?


_"Kalau hatinya manusia membaca Quran, mentadaburi Al Quran, yang terjadi adalah dia akan tersungkur, bersujud, dan menangis,"_ 

papar dr. Zaidul Akbar.


Maka dari itu, dr. Zaidul menyarankan :  _"orang-orang yang sekiranya merasa stres, bingung, atau pusing memikirkan sesuatu untuk membaca Al Quran dan menumpahkan tangis di atas sajadahnya."_


_"Kaya plong aja gitu, coba aja,"_

ujar dr. Zaidul Akbar meyakinkan.


Kata sang dokter, Allah menciptakan dua mata manusia salah satunya adalah untuk menguras emosi-emosi buruk yang ada dalam hatinya lewat tangis.


Itulah penjelasan dr. Zaidul Akbar tentang hal-hal yang terjadi pada tubuh manusia ketika membaca Al Quran.


Semoga berkah dan bermanfaat.***

Sunday, December 12, 2021

Tawakal reminder

 Copas dari temen FB, bagus


Sering bicara seperti inikah ke anak? 


"Sudah diberitahu bolak-balik tetep saja, makanya kalau ibu ngomong perhatikan!"


Atau begini, 


"Harus berapa kali ibu bilang biar kamu paham?"


Atau ada kalimat lain yang semisalnya? Bahkan kadang saking gemesnya, mata ini sambil melotot, suara melengking,  tangan berkacak pinggang.


Ibu, tak jarang anak mengulangi kesalahan yang sama, meskipun kita sudah berusaha menasihatinya berulang kali.


Bukan nasihatnya yang salah, karena saya yakin setiap ibu pasti menginginkan anaknya menjadi baik, dan nasihat yang diberikan pun pasti baik.


Dan bisa jadi, cara, waktu, pendekatan dan frequensi yang sudah kita terapkan juga sudah tepat saat memberikan untaian nasihat, bahkan kita juga sudah menimbangnya sesuai tingkatan usianya, akan tetapi anak2 juga masih melanggar beberapa nasihat2 kita. 


Dalam kondisi badan lelah setelah seharian menyelesaikan pekerjaan rumah yang seolah tidak ada habisnya, kadang terbersit pikiran, 'bagaimana lagi supaya mereka mengerti?', dan  buliran air mata pun menetes menyesali amarah2 yang telah terluapkan.


Wahai ibu, kita masih mempunyai Allah yang menggenggam hati anak-anak kita. Kita mempunyai do'a2 sebagai senjata dalam mendidik mereka.


Maka, sucikan dirimu, bersihkan hati dan tunduklah, angkat tanganmu seraya berdo'a kepada Allah,


قَالَ رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي  يَفْقَهُوا قَوْلِي


“Musa berkata, ‘Robbis rohlii shodrii, wa yassirlii amrii, wahlul ‘uqdatam mil lisaani yafqohu qoulii’ [Ya Rabbku, lapangkanlah untukku dadaku, dan mudahkanlah untukku urusanku, dan lepaskanlah kekakuan dari lidahku, supaya mereka mengerti perkataanku” (QS. Thoha: 25-28)


Inilah salah satu bentuk kepasrahan kita sebagai ibu. Pasrah bukan berarti harus menyerah. Pasrah bukan berarti telah kalah. Dan pasrah bukan berarti tanpa usaha.


Memasrahkan segala urusan kepada sebaik-baik Dzat yang Maha Agung, termasuk urusan dalam mendidik anak. 


Menggantungkan hati kepada Allah dengan harapan mendapatkan maslahat (hal-hal yang baik) dan terhindar dari madhorot (hal-hal yang buruk) dari masalah yang dihadapi ketika mendidik anak.


Tawakkaltu 'alallah...


Semoga Allah mudahkan setiap urusan kita dalam pendidikan anak, dan juga urusan kita yang lainnya, dan semoga Allah memberikan keberkahan dalam setiap usia yang berkurang dan setiap usaha yang dikerahkan hingga Allah merohmati dan menerima amal kita...aamiin


- ummu ansharullah -