SEKALI LAGI TENTANG BAGAIMANA BAYI TIDUR MANDIRI: PENGALAMAN PARENTING DARI NEGERI KIWI
Beberapa waktu lalu saya sharing tentang bagaimana bayi bisa tidur secara mandiri. Alhamdulillah artikel tersebut mendapat sambutan yang luar biasa. Lebih dari 4000 orang membagikan tulisan tersebut. Saya memaknainya banyak orang yang tertarik dengan topik ini.
Melalui facebook, orang-orang yang tidak saya kenal tiba-tiba menghubungi saya. Kebanyakan dari mereka penasaran dan menanyakan bagaimana tips-tips agar bayi bisa tidur secara mandiri. Saya melihat berarti ini bukan hanya masalah yang terjadi pada ibu-ibu di New Zealand, tapi juga ibu-ibu di Indonesia.
Selain menanyakan tentang bagaimana tips agar bayi bisa tidur sendiri, beberapa juga sharing masalah tidur bayi mereka. Tentang tips-tips tersebut, mari saya jelaskan berdasarkan pengalaman saya.
Pertama, pastikan bayi sudah kenyang, popok kering, sudah puas bermain, dan menunjukkan tanda-tanda bahwa dia lelah. Tanda-tanda bayi lelah sangat mudah diidentifikasi kok. Menatap kosong, gerakan tersentak, mengusap mata ataupun menguap, tangan mengepal, menghisap jari, mengabaikan usaha kita untuk menarik perhatian, dan tidak tertarik pada orang maupun mainan.
Kedua, taruh anak di tempat dia tidur. Boks bayi atau semacamnya. Apabila dia menangis, biarkan 10-15 menit (ini yang paling menantang naluri ibu. Di awal-awal saya mempraktekkan ini, saya gregetan ingin segera mengangkatnya, tapi saya tahan).
Ketiga, apabila setelah dibiarkan tangisnya tidak kunjung reda, kemungkinan bayi belum kenyang atau popok basah. Kalau itu masalahnya, segera disusui dan diganti popoknya. Apabila masih menangis setelah 15 menit biarkan bayi di tempat tidurnya. Di saat ini mulailah mencoba menambahkan cara lain dengan membelai kepalanya. Bisa dengan memijat kakinya atau membelai perutnya.
Keempat, selain cara lain di atas, bisa gunakan bantuan suara-suara yang bisa membuat bayi rileks seperti suara music yang pelan, lantunan Alquran, dsb. Terakhir saya juga mencoba ‘white noise’. Contoh-contoh white noise yaitu suara hairdryer, vacuum cleaner, dll.
Alhamdulillah cara-cara di atas sudah berhasil saya terapkan pada anak saya. Sampai sekarang pun bayi saya masih belajar untuk tidur, tapi tidak sesulit pada saat awal dulu. Saya sudah cukup puas dengan anak saya tidak tertidur digendongan saya atau bapaknya.
Saya bisa membayangkan kendala ibu-ibu di Indonesia terutama yang ingin menerapkan cara ini untuk bayinya tapi mereka masih tinggal dengan orangtua ataupun mertua. Para orangtua/mertua tidak bisa membiarkan cucu mereka menangis lama. Itu memang tantangan tersendiri.
Saya bersyukur anak saya lahir di New Zealand. Kenapa? Bukan karena terlihat keren lahir di luar negeri. Bukan. Tetapi karena saya mendapat begitu banyak support dan saya mendapatkan banyak sekali ilmu terutama ilmu parenting dari New Zealand, yang notabene sangat berbeda di Indonesia.
Wellington, 3 Oktober 2017
ditulis oleh Uli Wahdatul U
disunting oleh: Jazz Muhammad
No comments:
Post a Comment