Tuesday, September 21, 2021

Susu Hamil

 PERLUKAH MINUM SUSU HAMIL SELAMA HAMIL? SEKILAS PENGALAMAN HAMIL DARI NEGERI KIWI


Asupan makanan adalah hal yang krusial dalam masa kehamilan. Selain memberi makan kita sendiri sebagai ibu hamil, ada calon manusia di dalam perut yang membutuhkannya juga. 


Di banyak benak orang masih ada anggapan bahwa ketika kita hamil itu kita makan untuk 2 orang, tidak sepenuhnya benar. Ada orang yang hamil karena makan banyak, malah jadi tambah gemuk, sedangkan bayinya kecil. Ada orang yang makan biasa saja tapi bayinya sehat, dan ibunya tidak “kegendutan”. 


Sebenarnya makan disini bukan masalah kuantitas, tapi kualitas apa yang kita makan. Apakah makanan kita cukup nutrisi atau tidak. 


Bagaimana ‘kebiasaan’ asupan nutrisi ibu hamil di Indonesia?

 

Banyak dari ibu-ibu hamil di Indonesia, termasuk teman, saudara, temannya teman atau siapapun memasukkan “susu khusus untuk ibu hamil” dalam daftar asupan nutrisinya setiap hari. Mengapa mereka harus minum susu hamil tersebut dan siapa dulu yang memulai kebiasaan tersebut? Saya belum terlalu yakin dengan alasannya. 


Saya pernah iseng-iseng menanyakan pada beberapa teman saya apakah mereka minum susu hamil selama hamil, dan jawaban mereka kebanyakan iya. Mereka meminum susu hamil karena takut asupan nutrisi dari makanan sehari-hari mereka dirasa kurang mencukupi. 


Bagaimana asupan nutrisi ibu hamil di New Zealand?


Ibu-ibu di New Zealand selama hamil disarankan oleh bidan atau midwife (orang hamil disini hampir semua diurus oleh bidan) untuk mengonsumsi makanan yang kita makan sehari-hari. Misalnya makan 3 kali sehari dengan sayur dan buah-buahan yang lebih banyak dari biasanya. 


Porsinya normal saja, tapi ada zat tertentu yang harus kita konsumsi lebih banyak. Ada kandungan nutrisi khusus yang sangat dibutuhkan ibu hamil seperti iodine, asam folat, dan zat besi. 


Pengalaman saya selama hamil disini, bidan menyarankan saya untuk makan seperti biasa. Ada daftar makanan yang boleh dimakan dan tidak tentunya seperti makan makanan yang mentah sebaiknya dihindari. Tapi di luar itu, makan saya semasa hamil hampir tidak berbeda ketika tidak hamil. 


Saya makan nasi, sayur, daging, telur, tahu, tempe, dan juga buah-buahan selalu ada setiap hari. Makan buah yang mengandung vitamin C terutama. 


Nah, sewaktu hamil, bidan saya sering menanyakan bagaimana konsumsi zat besi saya. Karena saya sendiri tidak yakin konsumsi zat besi saya cukup, beliau menyarankan saya untuk melakukan beberapa kali blood test untuk memastikan kadar zat besi saya. 


Kenapa zat besi? Karena zat besi penting pada masa kehamilan, selain untuk ibu hamil untuk menghindari resiko anemia, juga akan diserap oleh bayi demi pertumbuhannya.


Di dalam hasil salah satu blood test saya, hasilnya menunjukkan kalau kadar zat besi saya kurang dari normal. Karena itu saya diminta untuk meningkatkan asupan zat besi. Bidan memberikan opsi untuk mengonsumsi daging merah atau berupa suplemen zat besi. 


Saya pun memilih untuk meningkatkan konsumsi daging merah saya. Kebetulan harga daging sangat terjangkau, plus suami jago masak steak, hehe. 


Lalu, kapan nih minum susu hamilnya? Pertanyaannya, adakah susu hamil di New Zealand? 


Di pasar/supermarket tempat saya biasa belanja, sebelum hamil, saya pernah iseng-iseng mencari susu untuk ibu hamil di sana, tapi hasilnya nihil. Saya juga mencarinya via online shop disini dan hasilnya sama. Nihil juga. 


Mengapa di NZ tidak ada (atau mungkin saya yang kurang teliti menemukan) susu hamil? Jawab bidan saya ya karena makanan yang ada di NZ ini semua sudah cukup nutrisinya untuk menunjang kesehatan ibu hamil dan bayinya.


Jadi saya tidak minum susu hamil. Loh kan orang Indonesia? Bukannya sebaiknya minum susu hamil buat orang Indonesia? 


Jadi begini, kita masyarakat Indonesia belum banyak mengetahui nutrition facts dari berbagai makanan yang kita konsumsi. Kita berpikir bahwa selama hamil, nutrisi yang sudah kita konsumsi itu kurang. Jadi kita rasa perlu untuk mengonsumsi susu hamil tersebut. 


Setelah saya cari nutrition facts berbagai makanan seperti hati ayam dan tempe yang sangat murah meriah di Indonesia, ternyata itu mengandung asam folat dan zat besi yang sebanding dengan yang terkandung dalam susu hamil tersebut. 


Zat besi umumnya kita bisa temukan di daging merah. Karena di Indonesia daging merah relatif mahal harganya, kita bisa menggantinya pada makanan hewan unggas, hati ayam, beans/biji-bijian, maupun tempe dan tahu. Selain itu kalau kita tidak mau repot kita juga bisa mengonsumsi zat tersebut dalam bentuk suplemen makanan (tablet).


Saya tidak mengatakan kalau minum susu hamil itu tidak perlu. Tentu mereka punya alasan tertentu untuk mengonsumsinya.


Akan tetapi, masalahnya adalah, jika kita hamil, lalu berpikir kalau tidak minum susu hamil itu kebutuhan gizinya tidak tercukupi, sedangkan tidak semua dari kita ini mampu membeli susu hamil (Saya harus akui harga susu hamil di Indonesia lumayan mahal). Maksudnya, tidak jarang ada rasa minder pada orang yang tidak bisa membeli susu hamil itu. 


Saya hanya memberikan solusi bahwa bagi kita ibu hamil yang tidak mampu beli susu hamil, kita bisa mengonsumsi makan makanan yang biasa kita makan sehari-hari dan tentunya terjangkau seperti tempe, tahu, sayur dan buah yang ada di sekitar kita. 


Pada akhirnya semua kembali pada diri masing-masing. 


Oh ya, tambahan sedikit. Karena orang hamil itu bukan orang sakit ya, jadi ya biasa saja. Makan seperti biasa dan beraktifitas seperti biasa. Tidak harus bermalas-malasan, di tempat tidur terus. Malah bidan menyarankan saya untuk minimal jalan kaki 30 menit dalam sehari. Kalau ada sepeda ya bisa bersepeda, atau berenang (saya belum bisa berenang, hehe), atau hiking juga boleh. 


Salah satu yang bisa saya lakukan adalah berjalan kaki (untuk belanja), dan beberapa kali saya hiking di bukit terdekat dari rumah. Jarak tempuhnya kira-kira 30-45 menit sekali jalan. 


Oke, semoga apa yang saya sampaikan bermanfaat. 


Wellington, 24 Agustus 2017

ditulis oleh Uli Wahdatul U

disunting oleh suami saya Jazz Muhammad

No comments:

Post a Comment